Kembali ke Blog
Studi Kasus

Studi Kasus Rental Alat Camping Yogyakarta: Bertumbuh 300% di Era Pandemi

Bagaimana bisnis rental alat camping di Yogyakarta berhasil tumbuh 300% selama 2020-2022 saat staycation jadi tren. Strategi positioning, perawatan tenda-sleeping bag yang awet, dan sustainability sebagai nilai jual ke wisatawan eco-conscious.

7 Mei 20269 menit bacaTim MyRental.id

Studi Kasus Rental Alat Camping Yogyakarta: Bertumbuh 300% di Era Pandemi

Disclaimer: Profil komposit berikut dirangkum dari wawancara dengan beberapa pemilik rental camping di area Yogyakarta dan lereng Merapi sepanjang 2021–2025. Angka dibulatkan agar mudah dibaca; pola pertumbuhannya mewakili tren industri, bukan satu bisnis tunggal. Nama "Mas Hendra" bersifat generik.

Pandemi 2020–2022 membentuk ulang pola wisata Indonesia. Larangan perjalanan internasional dan kepenatan rumah membuat wisata alam lokal meledak. Yogyakarta, dengan lereng Merapi, Kaliurang, Nglanggeran, dan pantai-pantai Gunung Kidul, menjadi salah satu magnet staycation terbesar.

Artikel ini membedah bagaimana bisnis rental camping di Yogya — dari segmen kecil yang dulu hanya melayani komunitas pendaki — berubah jadi industri ratusan pemain yang tumbuh 300% dalam tiga tahun.


Era Pra-Pandemi: Niche Kecil, Marjin Tipis

2019, Mas Hendra menjalankan rental camping kecil di Sleman dengan 20 tenda dan 40 sleeping bag. Market: pendaki Merapi dan Merbabu, mahasiswa Mapala, pecinta gunung serius.

Metrik 2019Angka
Order per bulan30
Harga rata-rata per paketRp 150.000
Omzet bulananRp 4,5 juta
Margin bersih25%

Segmennya sempit tapi loyal. Pelanggan tahu cara merawat tenda, tidak rewel, dan repeat-order musiman.


2020: Demand Spike yang Tidak Terduga

Ketika travel internasional berhenti dan cafe tutup, orang Yogya dan wisatawan Jakarta-Bandung "lari ke gunung". Staycation kamping jadi alternatif yang sah secara protokol kesehatan (outdoor, low contact).

April–Juni 2020, booking Mas Hendra naik dari 30 ke 70 per bulan. Agustus tembus 100. Yang berubah: customer baru ini bukan pendaki serius. Mereka:

  • Tidak tahu cara dirikan tenda
  • Butuh "paket lengkap" (tenda + sleeping bag + matras + alat masak + lampu)
  • Mau diantar-jemput ke lokasi
  • Rela bayar premium untuk kenyamanan

Mas Hendra merespon dengan:

  1. Paket all-in Rp 350.000/malam (naik 2x dari harga lama)
  2. Delivery service ke 5 basecamp populer
  3. Set-up service — tim bantu mendirikan tenda

2021–2022: Scale-up dan Partnership

Dengan margin baru, Mas Hendra reinvestasi. Akhir 2022 armadanya:

ItemJumlahHarga Beli Per Unit
Tenda dome 4P (quality)50Rp 1.500.000
Sleeping bag -5 deg100Rp 600.000
Matras camping foam/air80Rp 250.000
Kompor portable + tabung30Rp 350.000
Cooking set nesting30Rp 300.000
Headlamp + lantern60Rp 150.000

Partnership dengan 5 basecamp di Kaliurang & Kinahrejo memberi aliran steady order — basecamp dapat komisi 15%, Mas Hendra dapat booking pre-arranged tanpa effort pemasaran harian.

Akhir 2022:

Metrik20192022
Order per bulan30120
Revenue bulananRp 4,5 jutaRp 80 juta
Armada tenda2050
Margin bersih25%35%

Pertumbuhan revenue: 1.700% dalam 3 tahun.


Kunci Operasional: Washing Protocol

Salah satu tantangan rental camping yang sering diabaikan: tenda dan sleeping bag menjadi kotor secara brutal. Lumpur, hujan, muntah, bahkan darah (luka kecil) adalah hal biasa. Tanpa protokol cuci yang ketat, lifespan tenda hanya 1,5 tahun.

Mas Hendra membangun drying room + washing station di rumah:

LangkahDetailDurasi
Pre-check damageInspeksi foto sebelum cuci15 menit
Vakum debrisBersih pasir/daun10 menit
Spot cleaningDeterjen mild pada noda30 menit
Full wash (tenda)Hand-wash di area terpal1 jam
DryingRak + kipas + dehumidifier24 jam
Final inspectionTes zipper, tiang, flysheet20 menit

Biaya protokol: ~Rp 25.000 per set per sewa. Tapi hasilnya: lifespan tenda naik dari 1,5 tahun ke 4 tahun. ROI investasi washing station (sekitar Rp 15 juta) kembali dalam 6 bulan hanya dari penghematan pembelian tenda baru.


Repair In-House: Extend Lifespan

Tiang patah, zipper rusak, flysheet bocor adalah kerusakan paling umum. Mas Hendra melatih satu teknisi in-house untuk:

  • Ganti zipper tenda (Rp 50 ribu material, 1 jam kerja)
  • Sambung tiang fiberglass (Rp 20 ribu, 30 menit)
  • Patch waterproof flysheet (Rp 30 ribu, 20 menit)

Dibandingkan mengirim ke vendor luar (Rp 200–400 ribu per perbaikan) atau membeli tenda baru (Rp 1,5 juta), repair in-house menghemat 80% biaya.


Sustainability Angle: Target Gen Z Eco-Camper

Mas Hendra mulai memposisikan ulang brand-nya di 2023 dengan tagline "Camp Light, Camp Right". Pesan inti:

  1. Sewa = kurangi satu tenda yang akan mangkrak di gudangmu. Sebagian besar orang camping 2–3 kali seumur hidup; tenda pribadi = aset mubazir.
  2. Set armada kami sudah mencegah 500+ unit produksi baru selama 5 tahun.
  3. Leave no trace — briefing wajib untuk setiap penyewa.

Angka dampak yang ia pajang di Instagram:

AspekAngka (estimasi)
Tenda di armada50
Rata-rata sewa per unit per tahun24
Unit personal yang dicegah per tenda8
CO2 saved total armada (5 tahun)~20 ton

Hasilnya: followers Instagram naik dari 3.000 ke 18.000 dalam setahun. Repeat rate customer urban (Jakarta, Bandung) naik 40%.


Pelajaran untuk Pemilik Rental Outdoor Lain

  1. Ready untuk customer non-expert. Paket all-in menggantikan paket per-item.
  2. Partnership lokal = aliran booking steady. Basecamp, hostel, travel agent.
  3. Washing & repair in-house = lifespan asset 2–3x. Ini beda antara profit dan rugi di skala.
  4. Sustainability messaging langsung masuk ke segmen Gen Z urban yang paling sensitif dan paling loyal.
  5. Software manajemen rental krusial saat armada > 30 unit. Overbooking adalah cara tercepat kehilangan reputasi di outdoor community.

Platform seperti MyRental.id memudahkan tracking kondisi per-unit tenda dan sleeping bag (termasuk tanggal cuci terakhir dan riwayat repair) — data yang tidak mungkin dikelola manual di skala 100+ item.

Siap Memulai?

Kelola bisnis rental kamu dengan MyRental. Coba gratis 14 hari, tanpa kartu kredit.

Coba Gratis 14 Hari